Semakin saya menerapi dan belajar tentang disiplin positif, semakin banyak alat yang saya gunakan. Berikut adalah beberapa alat yang dapat/biasa saya gunakan dalam pembelajaran dengan fokus pada solusi, empati, dan perbaikan hubungan, bukan hukuman:
Menggunakan Lebih Banyak Solusi daripada Konsekuensi
- Gunakan “Three R’s of Recovery” (Recognize, Reconcile, Repair).
- Manfaatkan “Wheel of Choice” atau “Solution Table” untuk melibatkan siswa dalam mencari solusi.
- Ajukan pertanyaan berbasis solusi (“Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki ini?”).
- Jadilah contoh dengan memperbaiki kesalahan Anda sendiri di depan siswa.
Hal ini pernah saya terapkan dengan diskusi pribadi kelompok seusai eksibisi yang telah dilaksanakan oleh Kami.
Meningkatkan Rasa Hormat pada Siswa
- Latih melalui pertemuan kelas dan role-playing.
- Gunakan pengingat visual (“We are looking for solutions, not blame”).
- Bimbing siswa dengan pertanyaan (“Apakah komentar ini membantu atau menyakiti?”).
Hal ini saya terapkan dengan forming a circle, mindful minutes, hingga diskusi pribadi.




Meningkatkan Komunikasi Siswa
- Gunakan “talking object” (tongkat bicara) dalam pertemuan kelas.
- Latih role-playing untuk memahami perspektif orang lain.
- Berikan pujian saat siswa menunjukkan sikap mendengarkan yang baik.
Hal ini pernah saya terapkan dengan diskusi pribadi kelompok dengan guru serta pembina asrama bersama murid asrama.
Mencari Solusi dengan Bimbingan
- Lakukan brainstorming terstruktur (tanpa penilaian awal).
- Gunakan “Four Problem-Solving Suggestions” (abaikan, bicara, cari solusi win-win, masukkan ke agenda kelas).
- Tanyakan “Bagaimana kita bisa memperbaiki ini?” alih-alih menyalahkan.
Keamanan Emosional di Kelas
- Terapkan “Three R’s” untuk normalisasi kesalahan.
- Guru harus terbuka tentang kesalahan pribadi dan cara memperbaikinya.
- Tegaskan bahwa “Membuat kesalahan ≠ Menjadi kesalahan”.
- Pertemuan kelas rutin membangun rasa percaya dan keterhubungan.








