Bijak akan Suasana Hati

Bijak akan Suasana Hati

Sebagai guru yang ingin terbuka akan ilmu baru, ternyata suasana hati kita memainkan peran besar dalam lingkungan kelas. Ketika kita datang dengan energi positif, siswa pun lebih nyaman dan siap belajar. Sebaliknya, jika kita stres atau frustrasi, mereka bisa merasakannya dan merespons dengan perilaku yang kurang kondusif/baik.

Saat suasana kelas mulai gaduh atau energi meningkat, tetap tenang adalah kunci.

Jangan emosional, sikap tenang membantu siswa menyesuaikan diri dan kembali fokus. Ini menciptakan pola belajar yang lebih kooperatif dan harmonis.

Mengakui kesalahan juga memiliki dampak besar. Sering kali, kita merasa harus selalu benar di depan siswa karena malu dan merasa otoritasnya tinggi. Padahal, dengan menunjukkan bahwa kita juga bisa salah dan bersedia memperbaikinya, kita mengajarkan mereka keberanian untuk belajar dari kesalahan. Ini bukan hanya membangun kepercayaan, tetapi juga budaya kelas yang lebih terbuka, di mana siswa merasa aman untuk bertanya, mencoba, dan berkembang.


Hal ini pernah saya terapkan ketika saya usai melerai kedua siswa.

Saya meminta maaf kepada kedua siswa tersebut. Lalu, bagaimana hasilnya? mereka meminta maaf kembali ke saya sambil melakukan gerakan salim dengan tangan saya. Saya ingat perkataan salah satu siswa yang saya lerai, “Saya yang seharusnya meminta maaf pak, saya yang kurang mengerti tempat dan kurang mengerti teman saya.”

Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar materi, tetapi juga menjadi contoh bagaimana menghadapi tantangan dengan bijak. Dengan mengelola emosi dan bersikap terbuka terhadap kesalahan, kita menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif dan inspiratif.

Bagikan ke sosial media
Fachrul
Fachrul

A self-employed IT and digital consultant driven by a profound passion for guiding businesses towards success in today's digital era.

Articles: 12