Menjadi Pendidik, Bukan Pengajar

Menjadi Pendidik, Bukan Pengajar

Tepat pada jam 21:11, Saya berada di warnet untuk menyelesaikan tugas-tugas saya sebagai seorang guru. Bukan karena saya tidak betah berada di asrama, tapi di asrama terasa panas dan kurang nyaman. Saya iseng melihat WhatsApp saya pada komputer warnet tersebut.

Selamat malam, Pak. Mohon maaf menganggu waktunya, untuk tugas di Lesson 1, Bapak ada kurang di bagian jurnal.

Ni Made Ayu

Kutipan tersebut adalah kutipan yang menurut saya agak mengganggu sebenarnya. Tapi, sebagai seorang guru saya harus menyelesaikan tugas saya sebaik yang saya bisa. Entah, mungkin karena saya memiliki sifat yang keras kepala, tetapi saya insyaallah pasti akan menyelesaikan tugas terkait.

Sambil mengerjakan tugas tersebut di warnet, saya merasa tersindir ketika saya membaca artikel tugas terkait. “The Spirit of Professional Learning” oleh Tina Blythe membuat saya tersindir setengah mati. Dari artikel tersebut, saya menemukan bahwa kita harus tetap bersifat open minded/terbuka terhadap perkataan seseorang, bukan sekedar penerima informasi, harus menyeleksi pembelajaran/perkataan hingga komitmen dalam pembelajaran sebagai guru. Inti yang saya dapatkan adalah sebagai berikut:

Pembelajaran sebagai Proses Selektif

Metafora yang diberikan pada artikel terkait membuat saya belajar bahwa kita dianjurkan untuk menyeleksi apa yang akan kita pelajari; tidak semua bermanfaat, tidak semua sia-sia. Sebenarnya, bukan hanya lokakarya saja hal tersebut di lakukan. Menurut saya, hal tersebut sangatlah penting di terapkan di kehidupan sehari-hari untuk saya yang keras kepala.

Guru sebagai Pencipta, Bukan Sekadar Penerima

Ada sebuah perkataan yang terngiang di kepala saya ketika saya membaca artikel pada pelajaran positif disiplin kali ini.

Guru bukan sekedar pengajar, tetapi pendidik.

Ali Abdurrahman Assegaf

Kita sebagai guru ternyata harus tercipta sebagai seniman/maestro dari dunia pembelajaran. Singkatnya, jangan pasif. Ide, teknik, strategi hingga eksperimen harus kita siapkan lebih menarik dan matang untuk memenuhi kebutuhan spesifik di dunia pembelajaran.

Komitmen terhadap Pembelajaran Berkelanjutan

Serius, ini adalah hal yang susah bagi saya si keras kepala. Saya cenderung untuk jarang menerima saran dan kritik dikarenakan saya memiliki prinsip yang saya lebih percaya karena itu berhasil saya lakukan serta mendapatkan hasil yang sesuai. Berbeda dengan pekerja korporat, seorang guru dapat menyaring, menyesuaikan hingga mengaplikasikan wawasan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.

Bagikan ke sosial media
Fachrul
Fachrul

A self-employed IT and digital consultant driven by a profound passion for guiding businesses towards success in today's digital era.

Articles: 12