Beberapa waktu lalu, saya mulai menerapkan pendekatan baru di kelas. Bukan soal metode pembelajaran atau kurikulum, tetapi tentang bagaimana kita menyelesaikan masalah bersama. Saya menemukan inspirasi dari modul Disiplin Positif yang menekankan pentingnya berfokus pada solusi, bukan pada hukuman atau rasa malu. Dan dari situ, perjalanan kecil namun bermakna di kelas saya dimulai.
Bagaimana Saya Mencontohkan Problem Solving di Kelas?
Saya memulainya dengan memperkenalkan konsep sederhana tentang Growth Hacking, poster berwarna-warni saya tempelkan di dinding kelas agar mudah dilihat dan diingat. Kami membahasnya satu per satu: mengabaikan, berbicara dengan hormat, menyepakati solusi, dan memasukkan masalah ke agenda pertemuan kelas.
Selain itu, saya mengenalkan Roda Pilihan, alat visual berbentuk lingkaran yang berisi berbagai opsi solusi yang bisa dipilih siswa saat menghadapi konflik. Hal tersebut saya lakukan secara spontan karena waktunya bersifat darurat.
Apakah Saya Merasa Siswa Sudah Yakin: “Kita Bisa Selesaikan Ini”?
Ya. Momen-momen kecil yang terjadi di kelas mulai membentuk keyakinan baru di antara para siswa. Ketika mereka tidak lagi terburu-buru datang kepada saya untuk mengadu, tetapi justru duduk bersama dan mencoba berdiskusi, di situlah saya mulai merasa bahwa mereka percaya bahwa mereka mampu menyelesaikan masalah sendiri.
Bagaimana Saya Tahu Itu?
- Saya mengetahuinya dari perubahan sikap dan kebiasaan mereka.
- Dari tatapan mata yang saling fokus saat berdiskusi.
- Dari kalimat seperti, “Saya minta maaf” atau “Saya tidak sengaja,” yang mereka ucapkan tanpa saya minta.
- Dari inisiatif mereka untuk menggunakan Meja Solusi tanpa perlu arahan.
- Dari keterlibatan aktif mereka saat menyusun Roda Pilihan bersama-sama.
Semua itu tumbuh bukan karena paksaan, tetapi karena proses yang kami bangun bersama.
Bagaimana Saya Membantu Mereka Mencapai atau Memperkuat Keyakinan Itu?
Saya membantu mereka dengan menyediakan alat dan ruang yang aman untuk mencoba. Saya tidak langsung menyelesaikan setiap konflik yang muncul, tetapi membimbing mereka dengan pertanyaan seperti:
- “Sudah coba saran dari poster kita?” atau
- “Mau pakai Roda Pilihan atau Meja Solusi?”
Saya mengajarkan mereka bahasa dan sikap untuk menyelesaikan konflik. Kami belajar bersama bagaimana cara mengungkapkan perasaan dengan baik, bagaimana mendengarkan dengan empati, dan bagaimana mencari solusi yang adil untuk semua pihak.
Saya tidak hanya mengajarkan mereka cara menyelesaikan masalah, tetapi juga membantu mereka percaya pada kemampuan diri sendiri untuk menyelesaikannya.








