Menulis sebagai Cermin Guru

Refleksi: Menulis sebagai Cermin Guru

Orang berkata bahwa jendela ilmu adalah membaca, terkadang lupa bahwa pintu ilmu adalah menulis. Menulis memiliki banyak manfaat; personal, instrumental, interaksional, informatif, heuristik dan estetis (Siddiqi, 2014). Jadi, izinkanlah saya sebagai Penulis melalui wadah tulisan ini untuk memenuhi manfaat personal, informatif, heuristik dan mungkin instrumental.

Belajar, Melepas Belajar, dan Kembali Belajar

“Menjadi guru di era perubahan bukan hanya tentang terus belajar (learn), tapi juga berani melepaskan kebiasaan lama yang tak lagi relevan (unlearn), dan siap memaknai ulang pengetahuan dengan cara baru (relearn). Inilah perjalanan kita: bukan berhenti saat tahu, tapi terus tumbuh karena mau.”

Merupakan kekhawatiran dan keputusasaan Penulis dalam belajar. Penulis egois dalam mengingat bahwa Penulis memerlukan pelepasan untuk menerima kembali pembelajaran. Ini layaknya Penulis ketika menerima pembelajaran tentang keilmuan Positif Disiplin sekitar 1 tahun yang lalu; masih merasa egois dan kesal terhadap ilmu yang tidak relevan. Padahal, walau tidak relevan:

  1. Learn memberikan dasar pengetahuan untuk berkontribusi di masyarakat.
  2. Unlearn adalah usaha agar tidak terjebak dalam cara berpikir statis.
  3. Relearn dapat membentuk kerangka berpikir dinamis yang mendukung Penulis dalam beradaptasi di era kompleks (Siddiqi, 2023).

Penelitian

Sesi ini menceritakan apa itu penelitian dan kaitannya dengan plagiarisme. Dimana etika, komitmen hingga dampak plagiarisme sudah Penulis ringkas di Komitmen terhadap Kejujuran Akademik. Hanya saja, Penulis masih belum puas terhadap arti penelitian.

Dalam buku “How to Write a Good Scientific Paper” oleh Chris A. Mack, arti penelitian secara eksplisit tidak diberikan dalam bentuk definisi tunggal yang mudah ditemukan. Namun, buku ini menggarisbawahi bahwa ilmu pengetahuan dan penelitian adalah proses yang melibatkan tiga pilar utama:

  1. Kumpulan pengetahuan bersama (baik fakta maupun teori) yang terus berkembang secara inkremental, di mana karya baru dibangun di atas dasar karya terdahulu.
  2. Metode evaluasi teori ilmiah dengan membandingkan prediksi teori dengan pengamatan atau eksperimen.
  3. Sikap skeptis dan keyakinan bahwa semua pengetahuan ilmiah bersifat sementara dan dapat direvisi bila ada bukti baru.

Dengan demikian, penelitian dapat dipahami sebagai suatu aktivitas yang terstruktur dan sistematis dalam memperoleh pengetahuan baru, yang didasarkan pada data eksperimental/observasi dan analisis kritis, serta hasilnya harus dapat dipertanggungjawabkan dan dipublikasikan untuk didiskusikan oleh komunitas ilmiah (Mack, 2018).

Refleksi

Beda dengan menulis, meneliti memiliki makna intrinsik ke arah sistematis. Kita dapat menulis dengan bebas, tapi belum tentu kita dapat memastikan hal tersebut. Proses sistematis ini diperlukan untuk mendapatkan bukti yang konkrit sebagai tanggung jawab penulis terhadap karya yang diciptakannya.

Daftar Pustaka

Yunus, M. 2014. Hakikat menulis (Modul 1). Universitas Terbuka. Diakses dari https://repository.ut.ac.id/4099/2/PDGK4305-M1.pdf

Mack, C. A. (2018). How to Write a Good Scientific Paper. SPIE Press.

Siddiqi, F. 2023. TRANSCENDING TEACHING THROUGH LEARNING,
UNLEARNING & RE-LEARNING
 (Vol. 36, No. 2, hal. 70-78). Teaching Beyond the Curriculum – Focus on Pedagogy 2023. Diakses dari https://hal.science/hal-04858626v1/file/Amps-Proceedings_Series_36.2.pdf#page=79

Bagikan ke sosial media
Fachrul
Fachrul

A self-employed IT and digital consultant driven by a profound passion for guiding businesses towards success in today's digital era.

Articles: 12